ADS

Menyamar Sebagai Mualaf, Pendeta Ini Menyusup Ke Pesantren Mencari Keburukan Islam, Malah Jadi Mualaf Sungguhan

Share:

Alhamdulillah, Seorang Pendeta Muda Filipus Kristian masuk Islam, meskipun gambaran negatif terhadap Islam semakin masif. Namun tak menghalanginya untuk masuk Islam. Siapakah dia dan ikuti kisah perjalanannya masuk Islam. https://www.pintuhidayah.com/



Dia adalah seorang pendeta muda tamatan sekolah alkitab Marauke angkatan 10 11, tamat tahun 2006/2007 dan dibesarkan dari keluarga Kristen Pentakosta atau GPDI. Filipus Kristian berasal dari keluarga keturunan Manado asli Minahasa. Ibunya dari suku Mongondow dan ayahnya dari suku Minahasa. Dia juga menjelaskan bahwa suku Minahasa adalah suku mayoritas Kristen, bisa dibilang tidak ada orang Minahasa beragama Islam kecuali yang mualaf. 


Tinggal di lingkungan mayoritas di Manado. Hubungan dengan orang-orang di masa lalu itu sangat akrab, rukun dan toleransinya sangat tinggi. Namun dia mengatakan ketika kita membahas itu kita tetap harus mengatakan yang sejujurnya. 

Sebelum masuk Islam Filipus Kristian menganggap Islam tidak yang baik dan tidak yang benar, asal berhubungan dengan Nabi Muhammad, Arab dan Islam dia mengatakan tidak perlu diseriusi dan dia menganggap adalah sampah yang harus dibuang pada tempatnya. Dia juga menjelaskan masuk Islam bukanlah karena hidayah.  Saya masuk Islam tidak dengan iklas sama sekali tidak iklas. Dia juga mengatakan mustahil saya masuk Islam dengan iklas, saya adalah orang yang membenci Islam yang sungguh luar biasa, memusuhi Islam. Mustahil saya masuk Islam dengan iklas katanya. Dalam sebuah channel Hidayatullah TV.


Memusuhi Islam tidak seperti yang lain dengan kata-kata atau narasi tapi kalau saya sampai main fisik, tidak sedikit orang Islam giginya dia patahkan dan saya cabut dengan tangan.

Dalam sebuah wawancara di channel youtube Hidayatullah TV, Kok bisa sedemikian bencinya kepada Islam ?

Dia menceritakan bahwa yang saya tahu Islam itu tidak baik, sugesti atau keterangan, berita yang masuk ke dalam diri saya dan lingkungan saya tentang Islam itu semua negatif, terorisme, radikalisme, sadis, bengis, ajarannya ngawur, tukang kawin.

Sebelum bertemu dengan orang-orang yang hebat, target penginjilannya adalah kepada orang-orang Islam yang lemah iman didaerah-daerah SP, daerah Papua, daerah-daerah transmigrasi muslim  di daerah Papua. Tugas saya disitu dengan tujuan pengobatan gratis, bakti sosial dan lain-lain. Dengan tujuan menjerat mereka untuk masuk dalam ajarannya. Dalam tugasnya dia bertemu dengan orang-orang yang hebat dalam berapologi yang kemudian memutus membuat saya harus masuk Islam meskipun dengan pura-pura.

Selama tiga tahun masuk Islam, itu hanya tahap penyelidikan dimana saya merasa berkewajiban, mumpung sudah banyak orang yang tahu, mumpung mereka sudah yakin saya masuk Islam, padahal dalam hati ya udah nyebur aja, sambil mencari tahu keburukan-keburukan, kesesatan-kesesatan ajaran Nabi Muhammad di dalam Islam tetapi cari tahu dari dalam bahkan ada beberapa pondok pesantren yang saya datangi untuk belajar sembari mencari tahu kelas mana yang ada pendidikan merakit bom, kelas mana yang ada pendiri pesantren mana yang katanya radikal ternyata setelah ditelusuri, Islam radikal yang katanya keras dan sebagainya ternyata orang-orang yang bercadar dan berjengot tidak bisa membunuh satu ekor lalat. Tida ada yang saya temukan kelas-kelas yang merakit bom, jihadis dan sebagainya, yang saya dapatkan orang yang belajar Fatur ma'rifatul Mu'in Fathul qarib yaqutunnafis, kitab kuning, Bukhari Muslim. Selama memondok di pesantren tidak ada saya temukan jenis-jenis radikal, jenis-jenis terorisme atau cikal-cikal bakal atau gerakan-gerakan yang menjurus ke arah situ, tidak ada sama sekali saya temukan. 

Disaat itu lah dia menyadari "ternyata saya termakan fitnah dari media massa, dari media-media mainstream, darimedia-media kafir yang terus menyudutkan orang Islam, ajaran Islam, ajaran Al Qur'an yang mana al-jannah Al Quran sarat dengan terorisme, kebengisan, kesadisan, radikalisme dan sebagainya. Disitulah saya menangis sejadi-jadinya di hadapan para santri, teman-teman saya yang masih santri, saya mengangkat jari satu saya, dan terus menangis tersenduh-senduh, sambil menyebutkan Allahuakbar, Allahuakbar, spontan mengucapkan dua kalimat syahadat.

Dia menyebutkan hidayah itu datang ketika hati nurani dan akal sehat berpadu berjalan normal hidayah itu yang akan datang.


Tidak ada komentar